Pengertian pendidikan islam
Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dengan konotasi istilah “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam
hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain.
Istilah-istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan
Islam: informal, formal dan non formal.
Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai
suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan
pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian
pendidikan Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah
mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia,
mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola
pikirnya teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam
bekerja dan manis tutur sapanya.
Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Sedangkan
menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses
penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.1
Dari definisi dan pengertian itu ada tiga unsur yang membentuk pendidikan yaitu adanya proses, kandungan, dan penerima. Kemudian disimpulkan lebih lanjut yaitu ” sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam diri manusia”.
Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempattempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian. Jadi pendidikan ini hanyalah untuk manusia saja.
Kembali kepada definisi pendidikan Islam yang menurut
Al-Attas diperuntutukan untuk manusia saja. menurutnya pendidikan Islam
dimasukkan dalam At-ta’dib, karena istilah ini paling tepat digunakan untuk
menggambarkan pengertian pendidikan itu, sementara istilah tarbiyah
terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mancakup juga
pendidikan kepada hewan. Menurut Al-Attas Adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan beberapa tingkat dan tingkatan derajat mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kepastian dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.
Dari pengertian Al-Attas tersebut dibutuhkan pemahaman yang mendalam, arti dari pengertian itu adalah, “pengenalan” adalah menemukan tempat yang tepat sehubungan denagn apa yang dikenali, sedangkan “pengakuan” merupakan tindakan yang bertalian dengan pengenalan tadi. Pengenalan tanpa pengakuan adalah kecongkakan, dan pengakuan
tanpa pengenalan adalah kejahilan belaka. Dengan kata lain ilmu dengan
amal haruslah seiring. Ilmu tanpa amal maupun amal tanpa ilmu adalah
kesia-siaan. Kemudian tempat yang tepat adalah kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakatnya, maksudnya dalam mengaktualisasikan dirinya harus berdasarkan kriteria Al-Quran tentang ilmu, akal, dan kebaikan (ihsan) yang selanjutnya mesti bertindak sesuai dengan ilmu pengetahuan secara positif, dipujikan serta terpuji.
Dasar-Dasar Pendidikan Islam
1. Al-Qur’an
Ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah
berkenaan masalah pendidikan di samping juga masalah keimanan. Allah
berfirman yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah
dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5).
2. As-Sunnah
As Sunnah adalah dasar kedua sesudah Al-Qur’an terhadap segala aktivitas umat Islam terhamsuk aktivitas dalam pendidikan.
Banyak hadits yang berhubungan dengan pendidikan di antaranya Rasulullah SAW. Bersabda :
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا اَلْجَمَهُ الله ُبِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ (رواه ابن ماجه)
Artinya : “Barang siapa yang menyembunyikan ilmunya maka Tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi.” (HR. Ibnu Majah)
3. Al Ijtihad
Yang dimaksud Ijtihad dengan kaitannya sebagai
dasar pendidikan Islam adalah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan ulama
Islam di dalam memahami nas-nas Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang
berhubungan dengan penjelasan dan dalil tentang dasar pendidikan Islam,
sistem dan arah pendidikan Islam.
Kesimpulan
Dengan pemaparan definisi pendidikan islam di atas dapat
disimpulkan bahwa definisi pendidikan islam adalah proses pembentukan
kepribadian manusia kepribadian islam yang luhur.
Bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikannya selaras dengan
tujuan utama manusia menurut islam, yakni beribadah kepada Allah swt.
http://mabadik.wordpress.com/2010/07/06/pengertian-dan-dasar-dasar-dan-tujuan-ilmu-pendidikan-islam/
http://islamiced.wordpress.com/tugas/ilmu-pendidikan-islam/pengertian-dasar-dan-tujuan-pendidikan-islam/
Faldiaz Anggayana (0901055066)
Tampilkan postingan dengan label dan Dasar Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dan Dasar Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Oktober 2012
Ilmu Pengetahuan dan Islam
islam merupakan agama yang mengagunkan ilmu pengetahuan. Pandangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
sangat signifikan. Hal ini tampak pada syarat keislaman seseorang
bahwasanya ia harus menggunakan otaknya untuk berfikir dan menerima
wahyu/ ajaran Islam. Ya, Islam sangat memuliakan ilmu pengetahuan bahkan
wahyu yang pertamakali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah keharusan membaca yaitu melihat, meneliti huruf dan alam.
Dalam surah al-‘Alaq ayat 1-5 disebutkan:
اقرأ باسم ربك الذى خلق (1) خلق الإنسان من علق (2) اقرأ وربك الأكرام (3) الذى علم باالقلم (4) علم الإنسان ما لم يعلم
Artinya: “bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [Maksudnya: Allah mengajar
manusia dengan perantaraan tulis baca] (4) Dia mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya(5)”
Perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan tersebut sangat jelas bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Islam sangat melarang taqlidu-l a’ma namun mewajibkan ummatnya untuk al-ittiba’. Taqlidu-l a’ma dan al-ittiba’ memiliki arti yang berbeda. Taqlidu-l a’ma
berarti hanya mengikuti orang-orang sebelumnya, mengikuti apa yang
dikerjakan orang yang lebih tua tanpa tahu ilmunya dan mengerti
dasarnya, sebaliknya al-ittiba’ adalah
mengikuti orang-orang terdahulu namun dengan disertai ilmu pengetahuan
tentangnya, bukan hanya mengekor tapi tahu apa, mengapa, bagaimana dan
untuk apa syariat/ ajaran yang diterimanya.
Ilmu yang diperintahkan dalam Islam bersifat mutlak. Keutamaan ilmu bertingkat-tingkat sesuai dengan obyek dan bidang bahasannya. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu
agama, dengannya manusia dapat mengenal dirinya dan Tuhannya,
menyingkap jalan hidupnya, dan mengetahui hak dan kewajibannya.
Setelah
itu baru ilmu yang dapat mengungkap hakikat yang menuntun manusia
menuju kebenaran, mendekatkan mereka kepada kebaikan, mewujudkan
kemaslahatan bagi mereka, atau menghindarkan mereka dari bahaya.
Asas-asas pengetahuan ada lima yaitu : guru, murid, ilmu, metode, sarana dan prasarana (QS al-‘Alaq : 1-5).
jadi seseorang yang beriman dan berilmu dapat memperoleh kedudukan yang tinggi. Ilmu yang diperintahkan dalam Islam bersifat mutlak karena pada hakikatnya ilmulah yang menuntun manusia
menuju kebenaran, mendekatkan mereka kepada kebaikan, mewujudkan
kemaslahatan bagi mereka, atau menghindarkan mereka dari bahaya, maka semakin tinggi ilmu yang dimiliki seseorang maka seharusnya semakin tinggi pula tingkat keimanannya kepada Allah SWT.
sumber:
http://hidayatullah.or.id/in/sistematika-wahyu-dokumen-online-88/45-prinsip-aqidah/46-ilmu-dalam-perspektif-islam-al-ilmu-fi-miizanil-islam.html
Faldiaz Anggayana (0901055066)
Definisi, Sumber, dan Dasar Pendidikan Islam
A.
Pengertian
Pendidikan Islam
Pendidikan
adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik,
yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Manusia
ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan
misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Agama islam
adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai
aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya
ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk
melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh
bekal kehidupan yang baik dan terarah.
Adapun yang
dimaksud dengan pendidikan Islam sangat beragam, hal ini terlihat dari definisi
pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan berikut ini:
Prof.Dr.
Omar Mohammad At-Toumi Asy-Syaibany mendefinisikan pendidikan islam sebagai
proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan
alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan
sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.
(Asy-Syaibany, 1979: 399)
Pengertian
tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada
pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek
produktivitas dan kreatifitas manusia dalam peran dan profesinya dalam
kehidupan masyarakat dan alam semesta.
Dr. Muhammad
SA Ibrahimy (Bangladesh) mengemukakan pengertian pendidikan islam sebagi berikut;
Islamic
education in true sense of the term, is a system of education which enables a
man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may easily
mould his life in according with tenent of islam.
Pendidikan
dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang
memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita
islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran
islam.
Pengertian
itu mengacu pada perkembangan kehidupan manusia masa depan tanpa menghilangkan
prinsip-prinsip islami yang diamanahkan oleh Allah kepada manusia, sehingga
manusia mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya seiring dengan
perkembangan iptek.
Dr. Muhammad
Fadhil Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan islam sebagai upaya
mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untk lebih maju dengan
berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga
terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan,
maupun perbuatan.
Definisi
tersebut memiliki tiga prinsip pendidikan islam sebagai berikut:
a.
pendidikan merupakan proses perbantuan pencapaian
tingkat keimanan dan berilmu ( QS. Al-Mujadilah 58:11)
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا
يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah
dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.”
1.
Sebagai model, maka Rasulullah saw sebagai uswatun
hasanah (QS. Al-Ahzab 33:21) yang dijamin Allah memiliki akhlaq mulia (QS.
Al-Qalam 68:4)
لَقَدْ كَانَ
لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab 33:21)
وَإِنَّكَ
لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan
sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.
Al-Qalam 68:4)
Pada manusia
terdapat potensi baik dan buruk, Oleh karena itu pendidikan ditujukan sebagai
pembangkit potensi baik yang ada pada anak didik dan mengurangi potensinya yang
jelek
B.
SUMBER PENDIDIKAN ISLAM
Sumber pendidikan islam merupakan
hal yang sangat di perhatikan dalam penataan individual dan sosial sehingga
dapat mengaplikasikan islam secara sempurna. Didalam pendidikan islam terdapat
beberapa sumber pendidikan, para ahli sependapat bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah
adalah sumber pendidikan Islam sebagaimana mereka juga sependapat bahwa
Al-Qur’an adalah sumber utama yang pertama dan As-Sunnah sumber utama kedua.
1.
Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber pertama
dan yang paling utama pendidikan islam. Al-Qur’an memiliki konsep pendidikan
yang utuh, hanya saja tidak mudah untuk diungkap secara keseluruhannya
karena luas dan mendalamnya pembahasan itu di dalam al-Qur’an disamping juga
keterbatasan kemampuan manusia untuk memahami keseluruhannya dengan sempurna.
Dan pendidikan al-qur’an juga memiliki pengaruh yang dahsyat apabila dipahami
dengan tepat dan diikuti dan diterapkan secara utuh dan benar. Karenanya
menjadikan al-Qur’an sebagi sumber bagi pendidikan Islam adalah keharusan bagi
umat islam.
Islam adalah agama yang membawa misi
umatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Al-Qur`an merupakan
landasan paling dasar yang dijadikan acuan dasar hukum tentang Pendidikan Agama
Islam. Firman Allah tentang Pendidikan Agama Islam dalam Al-qur`an Surat Al
–alaq ayat 1 sampai ayat 5, :
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S.
Al-‘alaq: 1-5)
Dari
ayat-ayat tersebut diatas dapatlah di ambil kesimpulan bahwa seolah-olah Tuhan
berkata hendaklah manusia meyakini akan adanya Tuhan Pencipta manusia
(dari segumpal darah), selanjutnya untuk memperkokoh keyakinan dan
memeliharanya agar tidak luntur hendaklah melaksanakan pendidikan dan
pengajaran.
2.
As-Sunnah
As-sunnah didefenisikan sebagai
sesuatu yang didapatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. yang terdiri dari ucapan,
perbuatan,persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik pada masa
sebelum kenabian ataupun sesudahnya. Didalam dunia pendidikan, As-Sunnah
memiliki dua manfaat pokok. Manfaat pertama, As-sunnah mampu menjelaskan konsep
dan kesempurnaan pendidikan islam sesuai dengan konsep Al-Qur’an, serta lebih
merinci penjelasan Al-Qur’an. Kedua, As-Sunnah dapat menjadi contoh yang tepat
dalam penentuan metode pendidikan.
Telah kita ketahui bahwa diutusnya
Nabi Muhammad saw salah satunya untuk memeperbaiki moral atau akhlak manusia,
sebagaimana sabdanya :
اِنَّمَا
بُعثْتُ لأَُ تْمّمَ مَكَا رمَ الأَ خْلاَ قا.
(رواه مسلم)
Artinya :
“Sesungguhnya
aku diutus tiada lain adalah untuk menyempurnakan akhlak”. (HR.
Muslim)
Makna hadist ini sudah jelas,
tujuannya sudah dapat dimengerti oleh umat muslim, yaitu menyempurnakan
keutamaan akhlak. Rasulullah Muhammad s.a.w. juga seorang pendidik, yang telah
berhasil memebentuk masyarakat rabbaniy, masyarakat yang terdidik secara
Islami. Bahkan Robert L. Gullick, Jr. dalam bukunya “Muhammad the
educator” mengakui akan keberhasilan Nabi Muhammad dalam melaksanakan
pendidikan.
3.
Ijtihad
Ijtihad merupakan istilah para
fuqaha, yakni berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh
ilmuwan syari’at islam untuk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syariat islam. Ijtihad dalam hal ini meliputi
seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada
Al-Qur’an dan Sunnah. Ijtihad
dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang di olah
oleh akal yang sehat oleh para ahli pendidikan islam.
C. DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Dasar dari pendidikan Islam adalah tauhid. Dalam
struktur ajaran Islam, tauhid merupakan ajaran yang sangat penting dan
mendasari segala aspek kehidupan penganutnya, tak terkecuali aspek pendidikan. Pendidikan
islam merupakan pengembangan pikiran, penataan prilaku, pengaturan emosional,
hubungan peranann manusia dengan dunia, serta bagaimana manusia mampu
memanfaatkan dunia, sehingga mampu meraih tujuan kehidupan sekaligus
mengupayakan upaya perwujudannya. Dalam kaitan ini para pakar berpendapat bahwa
dasar pendidikan Islam adalah tauhid, yakni kesatuan kehidupan, ilmu, iman,
agama dan kepribadian manusia, serta kesatuan individu dan masyarakat.
Al-Qur’an dan Sunnah juga dapat diartikan sebagai dasar di samping juga sebagai
sumber dari pendidikan. Dalam Al-Qur’an surat
Asy-Syuura ayat 52 Allah berfirman :
Artinya
:
“Dan
Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami.
sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang
kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami.
dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S.
Asy-Syuura : 52)
Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad
saw, yang artinya :
“Sesungguhnya
orang mukmin yang paling di cintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak
taat kepada-Nya, sempurna akal fikirannya, serta menasehati pula akan dirinya
sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka
beruntung dan memperoleh ia.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin)
Berdasarkan pada Ayat dan Hadits di
atas dinyatakan bahwa Allah swt memerintahkan kepada umat manusia untuk memberi
petunjuk kearah jalan hidup yang lurus, dalam arti memberi bimbingan dan
petunju ke jalan yang di ridhoi Allah swt. Dan dalam hadits Nabi dinyatakan
bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan
ajaran Allah swt, yang dapat di formulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk
pendidikan islam, dengan memberikan bimbingan, penyuluhan dan pendidikan islam.
Didalam dasar
pendidikan islam terdapat pokok-pokok dari pendidikan islam, yaitu :
1.
Pendidikan keimanan kepada Allah swt
Firman Allah
swt :
Artinya :
“Dan
(Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Q.S.
Lukman : 13)
Pendidikan yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentukan
keyakinan kepada Allah swt yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku
dan kepribadian anak didik.
2.
Pendidikan Akhlakul Karimah
Sejalan dengan usaha mebentuk dasar keyakinan atau keimanan maka
diperlukan usaha membentuk akhlak yang mulia. Berakhlak mulia merupakan modal
bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan sesama manusia. Akhlak termasuk
diantara makna yang terpenting dalam hidup, setelah keimanan dan kepercayaan.
Firman Allah
swt :
Artinya :
“Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S.
Lukman : 18)
3.
Pendidikan
Ibadah
Ibadah merupakan salah satu kewajiban dasar yang harus di berikan kepada
anak didik. Kewajiban beribadah ini merupakan nilai-nilai spiritual, menjalin
hubungan batin dengan sang Khali. Allah swt
berfirman :
Artinya :
“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Q.S.
Lukman : 17)
Adapun di dalam Negara Indonesia secara formal pendidikan islam
mempunyai dasar yang cukup kuat. Pancasila merupakan dasar setiap tingkah laku
dan kegiatan bangsa Indonesia, dengan keTuhanan Yang Maha Esa sebagai sila
pertama, berarti menjamin setiap warga Negara untuk memeluk, beribadah, dan
menjalankan aktifitas yang berhubungan dengan pengembangan agama, termasuk
melaksanakan pendidikan agama islam.
Sumber :
Winda Astriyani (0901055225)
Langganan:
Postingan (Atom)