Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan dan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan dan Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2012

konsep dasar Islam yang rahmatan lil'alamin



Islam yang “rahmatan lil ’alamin” (menjadi rahmat bagi seluruh alam) sering disebut-sebut, menjadi kebanggaan dan sebagai salah satu ciri keagungan agama Islam. Sejauh ini, konsep itu baru hanya diartikan bahwa Islam membawa kebaikan, rahmat dan keselamatan bagi lingkungannya. Belum ada penjabaran bagaimana konsep operasionalnya atau konkretnya bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Uraian di bawah ini adalah tuntunan memahami pengertian “rahmatan lil ‘alamin” itu dalam wujudnya yang jelas dan terukur sehingga bisa dijadikan pedoman dalam mengembangkan dan menyebarkan Islam yang penuh rahmat itu. Bagaimana ciri Islam sebagai ‘rahmatan lil a’alamin itu?” inilah jawabannya.

1. Orang Lain Ikut Menikmatinya

Pertama, orang lain ikut menikmatinya. Penyebaran Islam yang orang lain atau golongan lain ikut menikmatinya. Menikmati apa? Menikmati kebenarannya dan kebaikannya walau pun mereka bukan Muslim atau tanpa golongan lain tersebut tidak memeluk Islam. Mereka merasakan Islam itu benar dan baik dari aspek ajaran dan juga dari sikap atau perilaku pengikutnya yang santun, simpatik, hormat, saling tolong-menolong, toleran, saling bela, saling melindungi dan sebagainya. Golongan lain merasakan ketenangan berada di lingkungan Muslim. Mereka juga ikut menikmati kondisi, situasi, sistem sosial, lingkungan masyarakat yang dibangun dan diciptakan kaum Muslimin. Atau golongan lain juga ikut menikmati dampak atau hasil yang dicapai umat Islam yang mendorong kemajuan, menegakkan kebenaran, memerangi kejahatan, membenci keburukan dan menumpas kebatilan.

2. Orang Lain Merasakan Faedahnya
Kedua, orang lain merasakan faedahnya. Selain menikmati kebenaran ajaran dan kebaikan umatnya, golongan lain juga merasakan faedahnya dari kebenaran, kebaikan dan kemajuan Islam. Kemajuan yang diraih umat Islam dalam lapangan atau aspek apa saja terasa faedahnya oleh golongan non-Islam. Misalnya, dunia ilmu pengetahuan kini memakai angkat 0,1 sampai 9. Angka yang digunakan oleh dunia internasional ini disebut angka Arab, yang nota-bene adalah Islam, dan manusia seluruh dunia kini menggunakannya. Umat manusia merasakan faidahnya. Inilah bukti dari Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Dunia ilmu pengetahuan mengenal ilmu kimia (kimiyya), aljabar, ilmu falak (ilmu perbintangan atau astronomi), ilmu kedokteran yang dirintis Ibnu Sina (Barat: Avoreis) ilmu kelautan atau navigasi dan sebagainya. Ilmu-ilmu ini, pada awal perkembangannya, dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Inilah bukti dari Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Orang lain merasakan faedahnya. Silahkan menyebutkan contoh-contoh lain yang sangat banyak dalam aspek-aspek kehidupan yang lain yang telah dirintis, dicapai dan dikembangkan oleh kaum Muslimin.

3. Orang Lain Terangkat Martabatnya

Ketiga, orang lain terangkat martabatnya. Bukti lain yang harus terwujud dari konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah orang lain terangkat martabatnya. Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi dan memperjuangkan kebenaran, menyuguhkan kebaikan dan mendorong kemajuan harus turut mengangkat martabat orang-orang yang berada di lingkungannya, yaitu lingkungan pengaruh dan kekuasaannya. Misalnya, kisah Bilal bin Rabbah, budak hitam yang diperjualbelikan oleh kafir Quraisy kemudian menjadi orang penting Rasulullah s.a.w SAW setelah dia masuk Islam. Kisah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang kalah di pengadilan oleh seorang Yahudi biasa yang mencuri baju besi dan kisah seorang Yahudi yang melapor pada Khalifah Umar dan khalifah memecat Gubernur Syam karena menggusur rumah si Yahudi tersebut. Kisah ini mengangkat derajat kemanusiaan non-Muslim karena hukum yang adil melindunginya dari ketidakadilan.

4. Siapapun Sangat Membutuhkannya

Ciri keempat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah siapapun sangat membutuhkannya. Islam tidak eksklusif hanya diperuntukkan untuk umat Islam sendiri tapi untuk seluruh manusia di muka bumi. Muhammad pun diutus sebagai nabi dan rasul terakhir (khatamun nabiyyin, penutup para nabi) untuk umat manusia sampai akhir zaman. Ajaran Islam yang luhur dan agung, harus dirasakan dan dibutuhkan oleh siapapun di muka bumi ini, oleh orang Islam sendiri dan oleh golongan lain bahkan oleh orang yang tidak beragama sekalipun. Islam belum menjadi rahmat bagi lingkungan bila golongan lain tidak membutuhkannya. Pada aspek ini, harus diakui, umat Islam belum menunjukkan bukti dan kualitasnya. Secara norma, konsep dan ajaran, Islam itu tinggi, agung dan mulia: Al-Islamu ya’lu wa la yu’la alaih, tapi belum dibuktikan atau ditunjukkan oleh umatnya. Yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya. Bukan umat Islam yang dibutuhkan, tapi kita membutuhkan kemajuan Barat. Kita membutuhkan dana pembangunan, membutuhkan bantuan ekonomi, membutuhkan utang, membutuhkan kemajuan pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan dan tekologi yang datang dari Barat. Di beberapa belahan bumi, umat Islam masih identik dengan kemiskinan, ketertinggalan, kekurangan dan kelaparan. Selama situasi ini belum terbalik, orang lain belum membutuhkan kita, berarti kita belum mewujudkan bukti Islam itu rahmat bagi sekalian alam.

5. Tak Satu Pun Orang yang Merasa Tidak Terbantu Olehnya

Terakhir, bukti rahmat bagi sekalian alam adalah semua orang harus merasa terbantu oleh Islam. Keagungan Islam harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, dalam akhlak dan prestasi sehari-hari, membawa kebaikan dan kemajuan, sehingga golongan lain, siapapun, merasa terbantu oleh kemajuan Islam tersebut. Bukti ini misalnya pernah dibuktikan oleh Islam pada masa The Golden Age. Perkembangan ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, kimia, kedokteran, astronomi dan lain-lain yang kini lebih maju di Barat berasal dari kemajuan yang dicapai oleh dunia Islam yaitu oleh para ilmuwan seperti oleh Khawarizmi, al-Kindi, Kimiyya, Ibnu Sina dan lain-lain. Kini, semua orang di muka bumi ini, merasakan akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan itu, seperti kemudahan, kepraktisan, kecepatan dan seterusnya. 

Umy Fatiah (0901055216)

sumber:http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/05/konsep-dasar-penyebaran-islam-yang-rahmatan-lil-‘alamin

Kamis, 11 Oktober 2012

Ilmu Pengetahuan dan Islam

islam merupakan agama yang mengagunkan ilmu pengetahuan. Pandangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan sangat signifikan. Hal ini tampak pada syarat keislaman seseorang bahwasanya ia harus menggunakan otaknya untuk berfikir dan menerima wahyu/ ajaran Islam. Ya, Islam sangat memuliakan ilmu pengetahuan bahkan wahyu yang pertamakali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah keharusan membaca yaitu melihat, meneliti huruf dan alam.
Dalam surah al-‘Alaq ayat 1-5 disebutkan:

اقرأ باسم ربك الذى خلق (1) خلق الإنسان من علق (2) اقرأ وربك الأكرام (3) الذى علم باالقلم (4) علم الإنسان ما لم يعلم

Artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca] (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya(5)”

Perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan tersebut sangat jelas bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Islam sangat melarang taqlidu-l a’ma namun mewajibkan ummatnya untuk al-ittiba’. Taqlidu-l a’ma dan al-ittiba’ memiliki arti yang berbeda. Taqlidu-l a’ma berarti hanya mengikuti orang-orang sebelumnya, mengikuti apa yang dikerjakan orang yang lebih tua tanpa tahu ilmunya dan mengerti dasarnya, sebaliknya al-ittiba’ adalah mengikuti orang-orang terdahulu namun dengan disertai ilmu pengetahuan tentangnya, bukan hanya mengekor tapi tahu apa, mengapa, bagaimana dan untuk apa syariat/ ajaran yang diterimanya.

Ilmu yang diperintahkan dalam Islam bersifat mutlak. Keutamaan ilmu bertingkat-tingkat sesuai dengan obyek dan bidang bahasannya. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu agama, dengannya manusia dapat mengenal dirinya dan Tuhannya, menyingkap jalan hidupnya, dan mengetahui hak dan kewajibannya.
Setelah itu baru ilmu yang dapat mengungkap hakikat yang menuntun manusia menuju kebenaran, mendekatkan mereka kepada kebaikan, mewujudkan kemaslahatan bagi mereka, atau menghindarkan mereka dari bahaya.
Asas-asas pengetahuan ada lima yaitu : guru, murid, ilmu, metode, sarana dan prasarana (QS al-‘Alaq : 1-5).

jadi seseorang yang beriman dan berilmu dapat memperoleh kedudukan yang tinggi. Ilmu yang diperintahkan dalam Islam bersifat mutlak karena pada hakikatnya ilmulah yang menuntun manusia menuju kebenaran, mendekatkan mereka kepada kebaikan, mewujudkan kemaslahatan bagi mereka, atau menghindarkan mereka dari bahaya, maka semakin tinggi ilmu yang dimiliki seseorang maka seharusnya semakin tinggi pula tingkat keimanannya kepada Allah SWT.

sumber:
http://hidayatullah.or.id/in/sistematika-wahyu-dokumen-online-88/45-prinsip-aqidah/46-ilmu-dalam-perspektif-islam-al-ilmu-fi-miizanil-islam.html

Faldiaz Anggayana (0901055066)

Selasa, 09 Oktober 2012

Ilmu Pengetahuan dan Islam

1. Apakah Ilmu itu ?

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (And English reader’s dictionary)
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary)
dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”.

2. Kedudukan Ilmu Menurut Islam

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani9(1995;; 39) sebagai berikut ;
‘’Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan ,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi’’
ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal ini sejalan dengan firman ALLah:
“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)
Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayat 114 yang artinya “dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5 yang artuinya:
“bacalah dengan meyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia
telah menciptakan Kamu dari segummpal darah .
Bacalah,dan tuhanmulah yang paling pemurah.
Yang mengajar (manusia ) dengan perantara kala .
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”
Ayat –ayat trersebut , jelas merupakan sumber motivasi bagi umat islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu,untuk terus membaca ,sehingga posisi yang tinggi dihadapan ALLah akan tetap terjaga, yang berarti juga rasa takut kepada ALLah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh , dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi denga ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd (1992: 130) meyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal .
Di samping ayat –ayat AL qur”an, banyak nyajuga hadisyang memberikan dorongan kuat untukmenuntut Ilmu antara lain hadis berikut yang dikutip dari kitab jaami’u Ashogir (Jalaludin-Asuyuti, t. t :44 ) :
“Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagisetuap muslim’”(hadis riwayat Baihaqi).
“Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim . sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut “(hadist riwayat Ibnu Abdil Bar).
Dari hadist tersebut di atas , semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu ,dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa mengenal batas wilayah.

3. Klarsfikasi Ilmu menurut ulama islam.

Dengan melihat uraian sebelumnya ,nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran islam . AL qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabi menunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini .
Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’liimu AL Muta‘alim (t. t. :4) ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan :
“Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntutsegsls ilmu ,tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu AL hal) sebagaimana diungkapkan ,sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuaytan dan sebagus –bagus amal adalah menjaga perbuatan”.
Kewajiban manusia adalah beribadah kepeda ALLah, maka wajib bagi manusia(Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata cara tersebut ,sepErti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji ,mengakibatkan wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut . Demikianlah nampaknya semangat pernyataan Syech Zarnuji ,akan tetapi sangat di sayangkan bahwa beliau tidak menjelaskan tentang ilmu-ilmu selain “Ilmu Hal” tersebut lebih jauh di dalam kitabnya.
Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu 1). Ilmu Fardu a’in, dan 2). Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian Ilmu-ilmu tersebut sebagai berikut :
“Ilmu fardu a’in . Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in “ (1979 : 82)
“Ilmu fardu kifayah. Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi “ (1979 : 84)
Lebih jauh Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu (yang menuntutnya) fardhu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakan urusan dunia.
Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi kelompok ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1. Ilmu yang merupakan suatu yang alami pada manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir.
2. Ilmu yang bersifat tradisional (naqli).
bila kita lihat pengelompokan di atas , barangkali bisa disederhanakan menjadi 1). Ilmu aqliyah , dan 2). Ilmu naqliyah.
Dalam penjelasan selanjutnya Ibnu Khaldun menyatakan :
“Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmmah dan falsafah. Yaituilmu pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya, persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya, sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir. Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara “ (Nurcholis Madjid, 1984 : 310)
dengan demikian bila melihat pengertian ilmu untuk kelompok pertama nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-ajaran syariat dari al qur’an dan sunnah Rasul.
Ulama lain yang membuat klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu : 1). Al manqulat, 2). Al ma’qulat, dan 3). Al maksyufat. Adapun pengertiannya sebagaimana dikutif oleh A Ghafar Khan dalam tulisannya yang berjudul “Sifat, Sumber, Definisi dan Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Syah Waliyullah” (Al Hikmah, No. 11, 1993), adalah sebagai berikut :
1). Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama yang disimpulkan dari atau mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al hadis.
2). Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan penting.
3). Al maksyufat adalah ilmu yang diterima langsung dari sumber Ilahi tanpa keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif
Selain itu, Syah Waliyullah juga membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok yaitu : 1). Ilmu al husuli, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat indrawi, empiris, konseptual, formatif aposteriori dan 2). Ilmu al huduri, yaitu ilmu pengetahuan yang suci dan abstrak yang muncul dari esensi jiwa yang rasional akibat adanya kontak langsung dengan realitas ilahi .
Meskipun demikian dua macam pembagian tersebut tidak bersifat kontradiktif melainkan lebih bersifat melingkupi, sebagaimana dikemukakan A.Ghafar Khan bahwa al manqulat dan al ma’qulat dapat tercakup ke dalam ilmu al husuli.

Kesimpulan 
dalam islam ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam. hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ilmu ,dan ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah ,sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya.jadi seharusnya semakin tinggi ilmu yang dimiliki maka akan semakin tinggi pula keimanan kepada Allah SWT karena keimanan kepada Allah SWT adalah karakter tertinggi bagi orang yang berilmu.

sumber :http://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/


10 Ilmuwan Islam Paling Berjasa Dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dunia klik disini !


Winda Astriyani (0901055225)